Everything you need for your creative project



Radio Pasisia Online native berbasis flash dan membutuhkan adobe Flash 10 + support Silahkan Download.

Download Flash Disini.



HTML, Email, Blogger, WordPress, PSD, Joomla, Magento

Our Blog

TDS Mestinya Menginspirasi Pengembangan Wisata Sumatera Barat

80-80-(ah-personal) 80d 80x80 80x80 80x80b 80x80-wp admin-thumb avatar avatarb brody d f icon icon_wego_drupalf icond icon-opencart logo mt-cool-thumb 80-80-(ah-personal) 80d 80x80 80x80
Peta dari: indonesia-tourism.com
Penulis : M. Adli
(Staf anggota DPD RI SUMBAR, Penggiat kepariwisataan & Kepemudaan Pessel).

Tour de Singkarak adalah kejuaraan balap sepeda resmi dari Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste International) yang diselenggarakan setiap tahun di Sumatera Barat. Kejuaraan yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 ini merupakan balapan jalan raya jarak jauh yang umumnya diadakan sekitar bulan April hingga Juni dan berlangsung selama seminggu. Kejuaraan ini telah menjalin kerjasama dengan Amaury Sport Organisation yang menjadi penyelenggara Tour de France di Perancis. (Sumber: Wikipedia)

Saat penyelenggaraan pertamanya di tahun 2009 rute Tour de Singkarak hanya melewati daerah kab/kota: Padang, Pariaman, Kab. Agam, Bukitinggi, Padang Panjang, Sawahlunto, Tanah Datar dan Solok. Di tahun 2010 dan 2011 menyusul kota Payakumbuh, barulah pada pada tahun 2012 Kab. Pesisir Selatan dan Kab. Sijunjung mulai bergabung dan terdaftar dalam rute balapan TdS. Berlanjut pada tahun 2013 muncul lagi rute baru yang melewati Kabupaten Dharmasraya, Solok Selatan, dan Pasaman Barat. Hingga pada tahun 2014 bulan Juni yang lalu Tour de Singkarak semakin memperpanjang jalur rutenya dengan melewati 18 dari 19 kab/kota kecuali Mentawai, yakni dengan total jarak 1.250 kilometer.

Dilihat dari konsep kolektifitas kepariwisataan Sumbar melalui ajang TdS ini, kita mendapat sebuah pelajaran berharga bahwa ternyata pengelolaan kepariwisataan tersebut tidak efektif apabila hanya mengandalkan potensi satu atau dua daerah saja, tanpa didukung oleh kepariwisataan dari daerah kab/ kota lainnya. Namun pada TdS, hal itu mampu disuguhkan dalam satu bentuk paket kegiatan yang melibatkan kab/kota se Sumatera Barat. 

Sepanjang rute perjalanan begitu banyak keunikan dan kekhasan daerah yang bisa dirasakan oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahan alam yang beragam, budaya dan kesenian yang penuh corak dan cita rasa menciptakan image yang positif bagi Kepariwisataan Sumbar di mata Nasional dan Internasional.

Namun menurut pandangan penulis, diluar kontek TdS tentu pembangunan kepariwisataan kita tetap terus berjalan. Dunia kepariwisataan Sumbar kini penuh dengan tantangan dan persaingan antar objek- objek destinasi di setiap kab/ kota. Melihat perkembangannya tersebut masing- masing daerah terkesan berjalan sendiri- sendiri dan cendrung melakukan pengembangan pariwisata pada sektor sektor yang sama, kalaupun tidak mau disebut latah.

Kita sebut saja beberapa diantaranya; Padang Panjang yang menjadi pengagas hadirnya wahana bermain water boom yang dikelola oleh Mifan, kini telah bersaing pula dengan objek yang sama yang terdapat di Sawahlunto. Akibatnya salah satu di antara objek tersebut bisa meredup dan sepi pengunjung. Begitu juga yang dialami oleh objek Tanjung Mutiara di kawasan danau Singkarak Tanah Datar pada era tahun 2012 dikabarkan mulai lesu. Menyusul kondisi terkini yang terdapat di perairan laut Pesisir Selatan yang mulai bersaing dengan daerah Pariaman. Pemda Pariaman kini juga tengah melengkapi kawasan wisata Pantai Gandoriah dengan wahana bermain seperti jetsky dan banana boat seperti yang terdapat di kawasan Pacarbulan di Painan (Pantai carocok, Bukit Langkisau dan Panasahan).

Barangkali kita sepakat, bahwa setiap daerah punya otoritas masing- masing dalam pengembangan sektor pariwisata di daerahnya, namun bila dilihat dari kaca mata wisatawan luar tentu hal ini memberi kesan kepariwisataan kita tidak terkoordinir dan terintegrasi dengan baik. Kekhasan wisata kita mulai berkurang dan justru bisa mengarah kepada persaingan bisnis pariwisata yang tidak sehat.

Sebagai masyarakat pemerhati kepariwisataan, tentu harapan kita pemerintah provinsi bisa lebih peka dan memberikan solusi terbaik bagi dunia kepariwisataan Sumbar secara menyeluruh dan tidak melihat hal ini secara parsial dan terkotak- kotak. Potensi alam Sumatera Barat sungguh mengagumkan dunia luar. Kita berharap semangat kedaerahan yang dibawa oleh iven Tour de Singkarak dapat diaplikasikan dalam program perencanaan pembangunan kepariwisataan Sumbar pada masa- masa yang akan datang. 

Tidak ada salahnya hal- hal yang baik kita adopsi untuk kemajuan Sumbar pada umumnya. Contoh sederhana misalnya; Dalam bidang promosi pariwisata khususnya buat wisatawan mancanegara, sudah selayaknya Sumbar punya paket kunjungan/ perjalanan wisata yang melibatkan 19 kab/ kota yang ada di Sumatera Barat. Jangan hanya aliran kunjungan itu melulu mengarah ke objek- objek tertentu saja. Bila hal ini bisa diatur oleh pemerintah provinsi, kita yakin setiap daerah akan termotivasi dan mulai membenahi wajah kepariwisataan mereka.

Semoga saja semangat kedaerahan dan keterlibatan secara kolektif yang dibawa oleh Tour de Singkarak tersebut, dapat dijadikan inspirasi oleh para pengambil kebijakan di negri ini. Bravo Pariwisata Ranah Minang...

Designed By pasisia

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.