Everything you need for your creative project



Radio Pasisia Online native berbasis flash dan membutuhkan adobe Flash 10 + support Silahkan Download.

Download Flash Disini.



HTML, Email, Blogger, WordPress, PSD, Joomla, Magento

Our Blog

Mengkritik dengan Santun

80-80-(ah-personal) 80d 80x80 80x80 80x80b 80x80-wp admin-thumb avatar avatarb brody d f icon icon_wego_drupalf icond icon-opencart logo mt-cool-thumb 80-80-(ah-personal) 80d 80x80 80x80
Dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai makhluk sosial, hidup kita tentu tak lepas dari dipuji dan memuji, dikritik dan mengkritik. Kita perlu memuji untuk menunjukkan interaksi positif dengan orang lain, tetapi kita juga terkadang perlu mengkritik sebagai perwujudan kepedulian kita kepada orang lain.

Kritik sebagai wujud kepedulian? Tentu saja. Kritik yang baik tak hanya berisi celaan, tetapi juga alasan mengapa kita mengkritik, dan tentu saja memberikan masukan agar hal yang kita kritik dapat diperbaiki oleh orang yang kita kritik. Jadi, kritik yang baik tak hanya menghakimi sesuatu itu buruk, tetapi juga harus menjadi nilai tambah bagi yang dikritik agar bisa menjadi lebih baik.

Poin-poin berikut merupakan hal-hal yang perlu kita perhatikan ketika kita memuji dan mengkritik:

a. Memuji dan mengkritiklah dengan jujur

Kadang kita lupa, tak semua pujian itu bagus. Pujian yang berlebihan bisa membuat seseorang terlena, merasa sudah sempurna, sehingga lupa untuk memperbaiki diri. Oleh karenanya, pujilah jika memang seseorang atau sesuatu itu layak dipuji, dan kritiklah ketika seseorang atau sesuatu itu memang harus diperbaiki.

b. Memuji dan mengkritik harus objektif

Kita sebagai manusia tentu tak lepas dari unsur subjektivitas. Namun, dalam memuji dan mengkritik, terkadang kita lupa. Jika yang perlu dibenahi itu adalah teman kita, terkadang kita sungkan untuk melakukannya. Sebaliknya, jika yang perlu dipuji itu adalah seseorang yang tak dekat dengan kita, terkadang kita sulit melakukannya. Sebenarnya wajar saja, tetapi alangkah baiknya jika kita meletakkan kedua hal tersebut pada tempat yang tepat. Jangan sampai kita tak berani mengkritik teman kita, sehingga nantinya justru akan mencelakakan teman kita tersebut.

c. Mengkritik sebaiknya dengan kalimat yang santun

Kalau boleh saya analogikan, kritikan bagi seseorangitu  ibarat jamu atau pil. Pahit rasanya ketika pertama kali menelannya, meskipun efeknya positif, yaitu bisa membenahi diri kita sendiri. Namun, alangkah nyamannya jika jamu atau pil itu kita kemas sedemikian rupa sehingga menjadi lebih enak untuk dinikmati. Yah, meskipun pahit, jamu ini bisa kita kemas dalam bentuk kapsul, kan?

Demikian juga halnya dengan kritikan. Alangkah baiknya, jika kita mengkritik dengan memilih diksi yang tepat. Bagaimana pun juga, tak semua orang kebal kritik. Ada orang yang dikritik langsung pupus harapan. Sangat disayangkan, apabila kritikan kita yang awalnya bertujuan baik justru membuat patah arang karena pilihan kata yang kita gunakan tidak tepat. Oleh karenanya, santun dalam mengkritik sangat diperlukan.

Selain pilihan kata yang tepat, kita juga sebaiknya memberikan alasan mengapa kita mengkritiknya. Yang tak boleh kita lupa, berikanlah masukan agar menjadi lebih baik.  Tentu, alangkah bagusnya jika kita bisa memberi teladan bagi orang yang kita kritik.

Misalnya saja, kita akan mengkritik kebiasaan anak kita yang suka buang sampah sembarangan. Tentu kita tak hanya bilang, “Nak, jangan buang sampah sembarangan.”  Alangkah baiknya jika kita ucapkan, “Nak, jangan buang sampah sembarangan karena akan menyebabkan lingkungan menjadi kotor dan bisa menjadi sumber penyakit. Sebaiknya, buanglah sampah pada tempatnya.” Namun, jangan lupa, kita juga harus menjadi contoh dengan membuang sampah pada tempatnya. Jangan sampai anak  menghakimi kita sebagai orang yang cuma bisa mengkritik saja.

Designed By pasisia

Gambar tema oleh richcano. Diberdayakan oleh Blogger.